The 2nd Indonesia Open Karate Championship 2010

Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

16 April 2009

All Indonesian Goju Ryu Karate Kyokai (AIGKK) is best Family

All Indonesian Goju Ryu Karate Kyokai (AIGKK) bukan sebuah organisasi yang menaungi organisasi Goju Goju yang berada di Indonesia. Namun AIGKK hanya sebuah media komunitas bagi seluruh karateka Goju Ryu serta karateka titisan Goju Ryu ( Kei shinkan , Kyokushin & Kushin ryu ) yang ingin mendapatkan informasi mengenai Goju Ryu secara Objective. Baik itu Okinawa Goju Ryu ,JKF Gojukai maupun Gojukai-IKGA yang saat ini berada di Indonesia. Sehingga dalam memahami Goju Ryu tidak akan salah kaprah baik secara tekhnik karate Goju maupun rules management Goju itu sendiri.

Selain itu AIGKK pun dapat menjembatani karateka khususnya GOJU yang berminat melanjutkan karir karate nya baik itu sebagai pelatih maupun referee dengan standar certification WGKF,AGKF,AGF,JKF,WUKO-WUKF.Hal ini di maksudkan untuk meningkatkan kualitas para karateka Goju maupun titisannya secara standar International.

Secara berkala dan berkesinambungan AIGKK akan melakukan Tour of Duty serangkaian kegiatan baik coaching klinik maupun referee course serta gashuku.

Membership dalam AIGKK di berlakukan bagi karateka-karateka secara individual, diharapkan kemampuan ilmu yang telah di dapatkan di dalam AIGKK dapat di kembangkan di dalam perguruan/organisasi masing masing secara objective dalam menginformasikan Goju Ryu.

Demikian referensi yang dapat AIGKK sampaikan secara sekilas. Di bawah ini kami catat beberapa perguruan Goju Ryu yang dapat anda kunjungi dan berlatih.

Rumpun Okinawa Goju Ryu Karate ( Budo & Shiai System)

1. GOJUINDO ( Goju Ryu & Ju Jutsu International Karate-do ).

Dengan basic latihan Okinawa Goju Ryu Karate,Kobudo & San Kaku Ryu Ju Jutsu Traditional Martial Arts School.Didalam Gojuindo Anda dapat mempelajari tekhnik-tekhnik bela diri Multi Martial Arts Baik Okinawa Goju Ryu, Kobudo ( Weapon) Ju Jutsu San Kaku Ryu maupun Daito Ryu Aiki jutsu secara systematic traditional.Gojuindo di bawah arahan head instructor Firdaus Sensei dengan predikat 6th DAN Okinawa Goju Ryu Kyoshi,4th DAN Daito Ryu Samurai Aiki jutsu Renshi ,3rd DAN San Kaku Ryu Jujutsu Academy,3rd DAN Kobudo dan Pencak Silat Gajah Putih. Saat Ini Gojuindo di pimpin oleh Dwi Saptadji seorang perwira menengah di lingkungan MABES TNI AU sebagai President GOJUINDO dengan predikat 5th DAN Okinawa Goju Ryu ,1st DAN Ju Jutsu ,1 DAN Ju Do. Dalam materi berlatih Gojuindo menerapkan system active educative sehingga siswa tidak hanya di tuntut berlatih di dalam dojo saja tetapi selalu di berikan home work berlatih termasuk teoritis di dalam syllabusnya.

2. IOGKF INDONESIA

IOGKF ( International Okinawa Goju Ryu Karate Federation) basic latihan

Okinawa Goju Ryu .

di dalam dojo IOGKF Indonesia anda sebagai siswa akan mendapatkan

pelatihan Okinawa Goju

Ryu Karate secara sistematis dengan system Budo maupun Shiai.

IOGKF di bawah arahan dan Bimbingan Daniel Mahardani Sensei 3rd DAN

IOGKF sebagai Chief

Instructor. Selain itu sensei Daniel sebagai Komisi tekhnik bidang prestasi dan

pengembangan

atlit FORKI Pengprov DKI Jakarta.

Rumpun GOJUKAI – IKGA.

1. Gojukai – Ikga ( International Karate Gojukai Association) di dalam dojo anda akan mendapatkan pelatihan karate Goju yang juga secara sistematis dan mengacu kepada rules IKGA Honbu dibawah arahan tekhnik Gosen Yamaguchi putra Gougen Yamaguchi. Di dalam IKGA secara traditional mempertahankan tradisi karate Gougen Yamaguchi. Gojukai-Ikga di Indonesia di bimbing dan dibawah arahan Prof.Dr.Ahmad Ali SH.MH.LLM 7th DAN IKGA Kyoshi.

Gojukai-IKGA Indonesia adalah juga anggota FORKI.

Rumpun JKF GOJUKAI

1. GOKASI ( Goju Ryu Karate Shinbukan Indonesia )

Di dalam dojo Gokasi anda akan mendapatkan tekhnik-tekhnik Goju Ryu secara sistematis dengan arahan Shiai system dengan standar pelatihan Shinbukan JKF GOJUKAI.Anda akan di bimbing dan di arahkan oleh para instructor handal untuk mengantarkan prestasi karate anda secara baik.Saat ini di komandani oleh Prawoko Aska 6th DAN Shihan sebagai Head Instructor serta DR.Taufan sebagai President GOKASI.

GOKASI pun terdaftar sebagai anggota FORKI

2. GOJU RYU ASS ( Goju Ryu Association Karate-do Indonesia )

Di dalam dojo GOJU RYU ASS anda akan mendapatkan tekhnik-tekhnik Goju Ryu secara sistematis dengan arahan Shiai system.Anda akan di bimbing dan di arahkan oleh para instructor handal untuk mengantarkan prestasi karate anda secara baik.Saat ini di komandani oleh ALIF 4th DAN Sensei sebagai Ketua Dewan Guru serta DRS.Rudy sebagai President GOJU RYU ASS.

Sama seperti GOKASI ,Goju Ryu Ass pun terdaftar sebagai anggota FORKI

3. DOSHINKAN JKF GOJUKAI Indonesia

Di dalam dojo Doshinkan JKF Gojukai Indonesia anda akan mendapatkan tekhnik-tekhnik Goju Ryu secara sistematis dengan arahan Shiai system dengan standar pelatihan JKF GOJUKAI.Anda akan di bimbing dan di arahkan oleh para instructor handal untuk mengantarkan prestasi karate anda secara baik.Saat ini di komandani oleh Sopian Setawerdaya 4th DAN Sensei sebagai Ketua Chief Instructor Dohshinkan JKF Gojukai Indonesia serta Ir.Aryono Dwi Nugroho sebagai President.

4. BHINNEKA SHAKTI GOJU RYU KARATE INDONESIA

Di dalam dojo Bhinneka Shakti Goju Ryu Karate Indonesia anda akan mendapatkan tekhnik-tekhnik Goju Ryu secara sistematis dengan arahan Shiai system dan Traditional dengan standar pelatihan JKF GOJUKAI.Anda akan di bimbing dan di arahkan oleh para instructor handal untuk mengantarkan prestasi karate anda secara baik.Saat ini di komandani oleh Ir.Deden Saiful Achyar 5th DAN Shihan sebagai Ketua Dewan Guru.

Admin AIGKK

We are the Best Family of Goju many style

Firdaus Saiful Alam
www.wgkf.net
www.allindonesian-gojuryu.blogspot.com


MARI KITA BERSATU BERSAMA SAMA MENGEMBANGKAN GOJU RYU
DI TANAH AIR KITA INDONESIA TERCINTA

KITA WUJUDKAN BHINNEKA TUNGGAL IKA DALAM WARNA GOJU RYU
DENGAN PENUH HARMONIS DAN KEKELUARGAAN.


IN MEMORIAL
CHOJUN MIYAGI SENSEI
FOUNDER of GOJU RYU
25 April 1888 - 25 April 2009

Mari kita bergabung di Lembang Kab.Bandung
pada 25 - 26 April 2009
dalam
Indonesian Chojun Miyagi Festival

16 Januari 2009

Funakoshi O Sensei

Gichin Funakoshi was born in Shuri, Okinawa in 1868. As a boy, he was trained by two famous masters of that time. Each trained him in a different Okinawan martial art. From Yasutsune Azato he learned Shuri-te. From Yasutsune Itosu, he learned Naha-te. It would be the melding of these two styles that would one day become Shotokan karate. Funakoshi-sensei is the man who introduced karate to Japan. In 1917 he was asked to perform his martial art at a physical education exhibition sponsored by the Ministry of Education. He was asked back again in 1922 for another exhibition. He was asked back a third time, but this was a special performance. He demonstrated his art for the emporer and the royal family! Afer this, Funakoshi-sensei decided to remain in Japan and teach and promote his art.

Gichin Funakoshi passed away in 1957 at the age of 88. Aside from creating Shotokan karate and introducing it to Japan and the world, he also wrote the very book on the subject of karate, "Ryukyu Kempo: Karate-do". He also wrote "Karate-Do Kyohan" - The Master Text, the "handbook" of Shotokan and he wrote his autobiography, "Karate-Do: My Way of Life". These books and his art are a fitting legacy for this unassuming and gentle man.

IF THERE IS ONE MAN WHO COULD BE CREDITED with placing karate in the position it enjoys on the Japanese mainland today, it is Gichin Funakoshi. This meijin (master) was born in Shuri, Okinawa, and didn't even begin his second life as harbinger of official recognition for karate on the mainland until he was fifty-three years old.

Funakoshi's story is very similar to that of many greats in karate. He began as a weakling, sickly and in poor health, whose parents brought him to Itosu for his karte training. Between his doctor , Tokashiki, who prescribed certain herbs that would strengthen him, and Itosu's good instruction, Funakoshi soon blossomed. He became a good student, and with Asato, Arakaki and Matsumura as his other teachers, expertise and his highly disciplined mind.

When he finally came to Japan from Okinawa in 1922, he stayed among his own people at the prefectural students's dormitory at Suidobata, Tokyo. He lived in a small room alongside the entrance and would clean the dormitouy during the day when the students were in their classes. At night, he would teach them karate.

After a short time, he had earned sufficient means to open his first school in Meishojuku. Following this, his shotokan in Mejiro was opened and he finally had a place from which he sent forth a variety of outstanding students, such as Takagi and Nakayama of Nippon Karate Kyokai, Yoshida of Takudai, Obata of Keio, Noguchi of Waseda, and Otsuka, the founder of Wado-Ryu karate. It is said that in his travels in and around Japan, while giving demonstrations and lectures, Funakoshi always had Otsuka accompany him.

The martial arts world in Japan, especially in the early Twenties and up to the early Fourties, enjoyed ultra-nationalists were riding high, and they looked down their noses at any art that was not purely called it a pagan and savage art.

Funakoshi overcame this prejudice and finally gained formal recognition of karate as one of the Japanese martial arts by 1941.

Needless to say, many karate clubs flourished on mainland Japan. In 1926, karate was instirudes in Tokyo University. Three years later, karate was formally organized on a club level by three students: Matsuda Katsuichi, Himotsu Kazumi and Nakachi K.,Funakoshi was their teacher. He also organized karate clubs in Keio University and in the Shichi-Tokudo, a barracks situated in a corner of the palace grounds.

Funkoshi visited the Shichi-Tokudo every other day to teach and was always accompained by Otsuka, reputed to be one of the most brilliant of his students in Japan proper. Otsuka's favorite kata was the Naihanchi, which he performed before the royalty of Japan with another outstanding atudent named Oshima, who performed the Pinan kata (Heian).

One day, when Otsuka was teaching at the Shichi-Tokudo, a student, Kogura, from Keio University who had a san-dan degree (3rd-degree black belt) in kendo (Japanese fencing) and also a black belt in karate, took a sword and faced Otsuka. All the other students watched to see what would happen. They felt that no one could face the shinken (open blade) held by a kendo expert.

Otsuka calmly watched Kogura and the moment he made a move with his sword, Otsuka swept him off his feet. As this was unrehearsed, ot attested to the skill of Otsuka. It also bore out Funakoshi's philosophy that kata practice was more tah sufficient in times of need.

In 1927, three men, Miki, Bo and Hirayama decided that kata practice was not enough and tried to introduce jiyukumite (free-fighting). They devised protective clothig and used kendo masks in their matches in order to utilize full contact. Funakoshi heard about these bouts and, when he could not discourage such attempts at what he consedered belittling to the art of karate, he stopped coming to the Shichi-Tokudo. Both Funakoshi and his top student, Otsuka, never showed their faces there again.

When Funakoshi came to mainland Japan, he brought 16 kata with him: 5 pinam, 3 naihanchi, kushanku dai, kushanku sho, seisan, patsai, wanshu, chinto, jutte and jion. He kept his students on the before they progressed to the more advanced forms. The repetitious training that he instituted paid divedends; his students went on to produce the most precise, exact type of karate taught anywhere.

Jigoro Kano, the founder of modern judo, one invited Funakoshi and a friend, Makoto Gima, to perform at the Kodokan (then located at Tomisaka). Approximately a hundred people watched the performance. Gim, who had studied under Yabu Kentsu as a youth in Okinawa, performed the naihanshi shodan, and Fuankoshi performed the koshokun (kushanku dai).

Kanso sensei watched the performance and asked Funakoshi about the techniques involved. He was greatly impressed. He invited Funakoshi and Gima to a tendon (fish and rice) dinner, during which he sang and made jokes to put Funakoshi at ease.

Irrespective of his sincerity in teaching the art of true karate, Funakoshi was not without his detractors. His critics scorned his insistence on the kata and dectied what they called "soft" karate that wasted too much time. Funakoshi insisted on hito-kata sanen (three years on one kata).

Funakoshi was a humble man. He preached and practiced an essential humility. He did not preach the is rooted in the true perspective of things, full of life and awareness. He lived at peace with himself and with his fellow men.

Whenever the name of Gichin Funakoshi is mentioned, it brings to mind the parble of "A Man of Tao (Do) and a Little Man". As it is told, a student once asked, "What is the difference between a man of Tao and a little man?" The sensei replies, "It is simple. When the little man receives his first dan (degree or rank), he can hardly wait to run home and shout at the top of his voice to tell everyone that he made his first dan. Upon receiving his second dan, he will climb to the rooftops and shout to the people. Upon receiving his third dan, he will jump in his automobile and parade through town with horns blowing, telling one and all about his third dan".

The sensei continues, "When the man of Tao receives his first dan, he will bow his head in gratitude. Upon receiving his second dan, he will bow his head and his shoulders. Upon receiving his third dan, he will bow to the waist and quietly walk alongside the wall so that people will not see him or notice him".

Funakoshi was a man of Tao. He placed no emphasis on competitions, record breaking or championships. He placed emphasis on individual selfperfection. He believe in the common decency and respect that one human being owed to another. He was the master of masters.


NOTE Funakoshi sincerely believed it would take a lifetime to master a handful of kata and that sixteen would be enough. He chose the kata which were best suited for physical stress and self-defense, stubbornly clinging to his belief that karate was an art rather than a sport. To him, kata was karate.


http://www.skifworld.com/

02 Januari 2009

Kanazawa Kancho

One of the world most renowned and respected traditional karate masters alive Kanazawa Kancho, 10th Dan.

He is the first karateka to have won the notorious All Japan karate Championship.
In 1957 kumite champion,
In 1958 kumite and kata champion,
on one
occasion winning the finals whilst nursing a broken wrist from an earlier event.

Although trained in Judo in his early years, Kanazawa Kancho took up karate whilst at University under the late headmaster of JKA shotokan, sensei Matsatoshi Nakayama. Kanazawa Kancho is also one of the few remaining karateka privileged to have studied under Master Gichin Funakoshi, the famous Okinawin schoolteacher who brought karate to mainland Japan from Okinawa and founded the Shotokan style.
In 1978, Kanazawa Kancho set up SKIF (Shotokan Karatedo International Federation). SKIF is now the worlds largest Shotokan Karate Association under one chief instructor, having over 5 million members in over 10
7 countries.

1931

Born in Iwate, Japan

1956

Graduated from Takushoku University and joined Japan Karate Association

1957

Kumite Champion at the 1st JKA All Japan Championship Tournament

1958

Kumite and Kata Champion at the 2nd JKA All Japan Championship

1961

Chief Instructor in Hawaii, USA @ Godan(5thDan), JKA

1966

Chief Instructor of Karate Union of Great Britain�ARokudan (6thDan), JKA

1967

Chief Instructor of JKA Europe & German Karate Federation

1968

General Manager of the European team at the World Championship in Mexico

1971

Nana-Dan(7thDan), JKA A Director & General Manager of International Division of JKA. Shihan at Musashikogyo, Kantogakuin and Kitasato Universities

1972

General Manager of the Japanese Team at the 2nd WUKO Championship in Paris, France

1973

Nana-Dan(7th Dan), All Japan Karate Federation

1976

Referee 1st IAKF World Championship in Los Angeles Referee JKA Asia-Oceania Championship in Hong Kong

1977

Left JKA and Established Shotokan Karatedo International

1978

Hachi-Dan (8thDan), International Martial Arts Federation

1983

Chairman, 1st SKIF World Championship in Tokyo, Japan

1985

Chairman, 2nd SKIF World Championship in Dusseldorf, West Germany

1988

Kyu-Dan (9thDan), International Martial Arts Federation Chairman, 3rd SKIF World Championship in Utsunomiya, Japan

1991

Chairman, 4th SKIF World Championship in Mexico-City, Mexico

1994

Chairman, 5th SKIF World Championship in Yokohama, Japan

1997

Chairman, 6th SKIF World Championship in Milan, Italy

2000

Chairman, 7th SKIF World Championship in Bali, Indonesia

2003

Chairman, 8th SKIF World Championship in Durban, South Africa

2006

President, 9th SKIF World Championship in Tokyo, Japan

Present

: Kancho, Supreme Instructor and President of Shotokan Karatedo International Federation (Specified Non Profit Organization)


http://www.skifworld.com/

What is Karate-Do

In Okinawa, a miraculous and mysterious martial art has come down to us from the past. It is said that one who masters its techniques can defend himself readily without resort to weapons and can perform remarkable feats: the breaking of several thick boards with his fist or ceiling panels of a room with a kick. With his shuto ("sword hand") he can kill a bull with a single stroke; he can pierce the flank of a horse with his open hand; he can cross a room grasping the beams of the ceiling with his fingers, crush a green bamboo stalk with his bare hand, shear a hemp rope with a twist, or gouge soft rock with his hands.
Some consider these aspects of this miraculous and mysterious martial art to be the essence of Karate-do. But such feats are a small part of karate, playing a role analogous to the straw-cutting test of kendo [Japanese fencing], and it is erroneous to think that there is no more to Karate-do than this. In fact, true Karate-do places weight upon spiritual rather than physical matters, as we shall discuss. True Karate-do is this: that in daily life, one's mind and body be trained and developed in a spirit of humility; and that in critical times, one be devoted utterly to the cause of justice.

KARA
Karate-do is a martial art peculiar to Okinawa in its origins. Although it has in the past tended to be confused with Chinese boxing because of the use of the chinese "kara" character in its earlier name, in fact for the past thousand years, the study and practice of masters and experts, through which it was nurtured and perfected and formed into the unified martial art that it is today, took place in Okinawa. It is, therefore, not a distortion to represent it as an Okinawan martial art.

One may ask why the chinese "kara" character has been retained for so long. As I discuss in the section "The Development of Karate-do," I believe that at the time the influence of Chinese culture was at its peak in Japan, many experts in the martial arts traveled to China to practice Chinese boxing. With their new knowledge, they altered the existing martial art, called Okinawa-te, weeding out its bad points and adding good points to it, thus working it into an elegant art. It may be speculated that they considered "kara" (with the chinese character) an appropriate new name. Since, even in contemporary Japan, there are many people who are impressed by anything that is foreign, it is not difficult to imagine the high regard for anything Chinese that prevailed during that period in Okinawa. Even at the time of the present writer's youth, lack of a full set of Chinese furniture and furnishings in one's home was a serious impediment to the social influence of any leading family. With this background, the reason for the choice of the chinese "kara" character, meaning "Chinese," as a simple case of exoticism is apparent.

Following tradition, the writer has in the past continued to use the chinese character. However, because of the frequent confusion with Chinese boxing, and the fact that the Okinawan martial art may now be considered a Japanese martial art, it is inappropriate, and in a sense degrading, to continue use of the old "kara" in the name. For this reason, in spite of many protests, we have abandoned the use of it to replace it with the new character KARA.

WHAT IS THE MEANING OF KARA

The first connotation of kara indicates that karate is a technique that permits one to defend himself with his bare hands and fists without weapons.
Second, just as it is the clear mirror that reflects without distortion, or the quiet valley that echoes a sound, so must one who would study Karate-do purge himself of selfish and evil thoughts, for only with a clear mind and conscience can he understand that which he receives. This is another meaning of the element kara in Karate-do.

Next, he who would study Karate-do must always strive to be inwardly humble and outwardly gentle. However, once he has decided to stand up for the cause of justice, then he must have the courage expressed in the saying, "Even if it must be ten million foes, I go!" Thus, he is like the green bamboo stalk: hollow (kara) inside, straight, and with knots, that is, unselfish, gentle, and moderate. This meaning is also contained in the element kara of Karate-do.
Finally, in a fundamental way, the form of the universe is emptiness (kara), and, thus, emptiness is form itself. There are many kinds of martial arts, judo, kendo, sojitsu ("spear techniques"), bojitsu ("stick techniques"), and others, but at a fundamental level all these arts rest on the same basis as Karate-do. It is no exaggeration to say that the original sense of Karate-do is at one with the basis of all martial arts. Form is emptiness, emptiness is form itself. The kara of Karate-do has this meaning.
http://www.skifworld.com/

Hirokazu Kanazawa 10th Dan Head of SKIF

One of the world’s most renowned and respected traditional karate masters alive Kanazawa Shihan, 10th Dan. He won the notorious ‘All Japan karate Championship’ Kumite championship in 1957 and in 1958 won the Kata and Kumite Titles. On one occasion winning the finals whilst nursing a broken wrist from an earlier event.

Although trained in Judo in his early years, Kanazawa took up karate whilst at University under the late headmaster of the shotokan style Matsatoshi Nakayama (10th Dan). Kanazawa is also one of the few remaining karateka privileged to have studied under Master Gichin Funakoshi, the famous Okinawin schoolteacher who brought karate to mainland Japan from Okinawa and founded the Shotokan style.

Breaking away from the JKA (Japan Karate Association) in 1973, Kanazawa set up SKIF (Shotokan Karatedo International Federation). SKIF is now the world’s largest Shotokan association, having over 2 ½ million members in over 100 countries.

http://www.skkif.co.uk/

18 Desember 2008

Sejarah GOJURYU Di Tanah Air

Yth.
Para rekan-rekan dan simpatisan Gojuryu khususnya di Indonesia....
Mohon diijinkan saya memberi komentar sedikit saja tentang apa yg diceritakan oleh sensei Firdaus tentang mengenal Gojuryu di Indonesia, karena terdapat sedikit kekeliruan tentang sejarah Gojuryu di Indonesia.

Pada tahun 60 an seorang guru olah raga dari sebuah sekolahan bernama Budi Darma (Budi Leng) juga sebagai seorang pejudo di negara kita yg cukup terkenal dijaman itu, beliau mengembangkan judo dengan mendirikan dojo dengan JAD (Judo Association Djakarta) para murid judo ada Siauw Hay Tjiap (Hartono Syarif) Kwan Liem dkk.
Sekitar ditahun 67 an negara kita mulai dikenal olah raga bela diri Jepang yg dinamakan KARATE, maka bpk. Budi Darma yg hidup melalui mangkok nasi dari olah raga mencari dan membeli buku tentang KARATE,, maka dipelajari dan dipraktekan di dojo, dan mulai dikembangkan dan dojo tersebut di rubah dengan nama JKAD (Judo Karate Association Djakarta).

Suatu hari pada saat latihan berlangsung, karena suara berisik terdengar dari luar, maka seorang mahasiswa Jepang yg bernama Kunihiro Ishi masuk dan melihat latihan tsb, setelah selesai latihan, mahasiswa tsb mendekat dan bertanya pad bpk. Budi Darma, dikatakannya bahwa tehnik karate yg diajarkan ada kmiripan dengan tehnik karate yg dipelajarinya, maka apakah bpk. Budi Darma bersedia diarahkan tehniknya agar lebih bagus dan terarah? Mahasiswa Jepang tsb memperkenalkan diri sebagai murid dari Gojuryu Shinbukan Jepang tingkat DAN II.
Tawaran tsb diterima dengan baik oleh bpk. Budi Darma, dan tehnik mulai berubah.
Sensei Kunihiro Ishi pun kembali lebih aktif berlatih di Shinbukan honbu, hingga mengambil tingkat yg lebih tinggi serta melaporkan perkembangan cabang di Indonesia, atas persetujuan Urakawa shihan (DAN IX) maka dengan syarat penyesuaian tehnik, bpk. Budi Darma diberikan tingkat DAN V.

Seiring dengan bumingnya karate di tanah air kita, maka bertambah p[ula para murid yg berlatih, dengan nilai rajinnya latihan para murid, maka sensei Kunihiro Ishi akan memilih yg terajin dan berbakat untuk dikirim berlatih ke honbu.
Diantara murid yg terpilih adalah :
1. Yanche Rompas
2. Ukas Mihardja
3. Edison Tampubolon.
4.
Berkisar tahun 71 an dikirimlah mereka bertiga, untuk berlatih di honbu.
Namun ternyata peraturan di honbu, harus bayar uang penginapan setiap bulan, maka mereka bertiga sambil bekerja keras sambil berlatih.
Seiring dengan berkembangnya Gojuryu di Jepang, di Gojukan honbu yg dipimpin oleh Yamaguchi Gogen shihan saat itu mulai mempelopori berdirinya persatuan Gojuryu seluruh Jepang dengan nama GOJUKAI, telah hadir seorang murid asal Indonesia yg juga sebagai seorang pegawai kedutaan Indonesia di Jepang bernama Setio Haryono, maka bpk. Setio Haryono sekembali ke tanah air, membuka dojo sekaligus organisasi karate dengan nama Gojuryu Karate-do Indonesia disingkat dengan nama GOJUKAI, bukan berartikan persatuan Gojuryu Indonesia.

Disisi lain tentang 3 murid dari Indonesia yg kesulitan mendapat kerja, sdr. Yance Rompas di kedutaan ditawari untuk berlatih ke Gojukan honbu, maka beralihlah latihan dan menyatakan keluar dari Shinbukan honbu.
Maka sekembali ke tanah air, sdr. Yance Rompas bukan lagi menjadi anggota Gokasi, maleinkan menjadi anggota Gojukai.

Selang beberapa tahun kemudian, sdr. Ukas Mihardja kembali ke tanah air, bermaksud memberikan peralihan tehnik dari honbu kepada bpk. Budi Darma, namun mendapat tolakan, karena terjadi salah paham dan dianggapnya sebagai niat merusak mangkok nasi, dan malah dianjurkan mendirikan organisasi tersendiri, dan akhirnya didirikan dengan nama BHINEKA SAKTI.

Disamping itu, tidak ketinggalan sdr. Siauw Hay Tjiap (Hartono Syarif) yg pada saat itu sebagai bisnisman yg sering keluar masuk Hong Kong, dan beberapa kali berlatih di dojo Gojuryu Hong Kong, beliau juga pernah berlatih di Gojukan honbu, karena diseluruih dunia sedang digalakan persatuan Gojuryu, sedangkan beliau tidak mendapat induk afiliasi tehnik, maka beliau pun mendirikan organisasi dengan nama GOJURYU ASSOCIATION INDONESIA atau disingkat Gojuryu Ass, bukan berarti sebagi wadah persatuan Gojuryu di Indonesia, dan beliau menginduk / afiliasi tehnik ke Gojuryu Hong Kong, namun hubungan ini tidak berlangsung lama.

Saat itupun ditanah air telah dibenahi organisasi karate dengan nama Persatuan Olah Raga Karate-do Indonesia atau disebut PORKI, dan Bhineka Sakti ditolah masuk, yg diterima sebagai anggota PORKI hanya Gokasi, Gojukai dan Gojuryu Ass.
Pada tahun 75 pertengahan Urakawa shihan bermaksud datang ke Indonesia, namun mendadak sakit, dan meninggal di bulan September’75.
Beliau meninggalkan seorang istri dengan 2 anak laki-laki, sibungsu Shintaro Urakawa (DAN III) dan adiknay Hiromitsu Urakawa (DAN I), sedangkan anak didik tertinggi Chiba sensei dan Himi sensei (sama-sama DAN VII) namun kedua murid tsb kurang aktif, sedangkan yg aktif adalah Igarashi Shoji sensei (DAN V).

Maka tugas dojo diserahkan pada Igarashi sensei yg mengurus, namun selang beberapa bulan, istri Urakawa shihan keberatan atas hal tsb, dan Igarashi sensei mengundurkan diri dari Shinbukan honbu, serta mendirikan DOSHIKAI yg didukung oleh Chiba sensei serta adik seperguruan mendiang Urakawa shihan yaitu Haruyoshi Kagawa shihan (DAN VIII), dengan demikian Shinbukan honbu diketuai oleh seorang DAN III, sedangkan di Indonesia Kunihiro Ishi sensei dan Budi Darma sensei sudah memegang DAN V.

Maka di Gokasi terjadi pergolakan, ada yg pro honbu dan ada yg pro Doshikai, Gokasi tetap berafiliasi pada honbu, sedang sebagian mendirikan Doshikai Indonesia, diketuai oleh seorang murid yg baru berlatih dari honbu bernama Hendri, beliau sebenarnya adalah murid dari sdr. Yap Hok Kiang (murid Budi Darma sensei) namun karena tehniknya bagus dan telah berlatih di honbu, maka rekan-rekan mendukung.

Demikian sejarah yg saya sumbangkan untuk diketahui rekan-rekan pecinta Gojuryu di tanah air, semua ini saya dapat dari para pelaku sejarah yg saya rangkum, namun kalaupun masih ada kesalahan….saya mohon maaf dan mohon petunjuk untuk diluruskan sesuai yg benar.

Tanto Nugroho
E-Mail: tantonugroho@hotmail.com

07 Desember 2008

MENGENAL JKF- GOJUKAI & GOJUKAI IKGA

ASEAN GOJU RYU FEDERATION

Head Quarters : Jl.Raya Pangkalan Sariwangi Cihanjuang No. 141 L Bumi Sariwangi Bandung Barat West Java Indonesia

Affiliated : World Goju Ryu Karate Federation www.wgkf.net

MENGENAL JKF- GOJUKAI & GOJUKAI IKGA

Berbicara tentang Goju Ryu semua orang khususnya dalam dunia perkaratean di Indonesia, sudah bukan merupakan hal yang asing.Tetapi mengenai rumpun mana yang menjadi acuan dari suatu organisasi yang berliran GOJU masih menjadi sebuah kontroversi khususnya di kalangan Saiko Shihan & Shihan Kai sehingga pada jajaran level Sensei dan Senpei banyak terjadi kerancuan pemahaman.

Goju Ryu masuk ke Indonesia di bawa oleh seorang jepang bernama Kunishiro Ishii ( 2nd DAN) dari dojo Shinbukan yang mengadopsi tekhnik GOJUKAI dari Gougen Yamaguchi sang tokoh pendiri GOJUKAI. Kelak Kunishiro Ishii menjadi tokoh dalam berdirinya sebuah organisasi GOKASI (Goju Ryu Karate Shinbukan Indonesia) Seiring perjalanan waktu masuk ke Indonesia beberapa mahasiswa lulusan Jepang turut serta membawa Tekhnik GOJUKAI ke Indonesia. Sebut saja Bapak. Ukas Miharja dari Retsumikan University Gojukai, Bapak.Setyo Haryono,Bapak.Oloan Sitompul,Bapak.Edison Simbolon , bapak.Hartono Syarif (Siau Haw Jiap) ,Bapak.David Simble,bapak .Tanto Nugroho (Tan Tjoe Hok), semua generasi-generasi tersebut membawa tekhnik GOJUKAI.

Di Jepang sendiri pada masa itu telah berdiri ALL JAPAN GOJUKAI FEDERATION yang di dirikan oleh Gougen Yamaguchi Hanshi. Dimana Beliau selain pendiri sekaligus menjadi President, Vice President nya adalah Masutatsu Oyama (Choi Hong Hee) yang kelak menjadi tokoh karateka paling kontroversial melalui KYOKUSHIN yang didirikannya setelah keluar dari ALL JAPAN GOJUKAI FEDERATION.

Gougen Yamaguchi semasa sekolah pada fakultas hukum di Retsumikan University Kyoto, mengenal Goju Ryu dari Jitsuei Yogi Sensei dan kelak berlatih kepada Chojun Miyagi Sensei (Goju Ryu Soke) dimana sebelum berlatih kepada Jitsuei Yogi & Cojun Miyagi Sensei beliau telah menguasi seni beladiri pedang.(Japanese Fencing). Ritsumei-Kan Dai-Gaku Karate Kenkyu Kai adalah dojo pertama yang berdiri di Universitas tersebut.

Gougen Yamaguchi selain berlatih bersama dengan Shojo Ujita, Tsuji Tazaki,Haruyoshi Kagawa,Urakawa, melatih juga murid-murid termasuk Gosei dan Gosen Yamaguchi selain itu juga terdapat murid–murid dari Indonesia yang belajar di Retsumikan University.

Sepeninggalnya Gougen Yamaguchi Hansi, All Japan Gojukai Federation terpecah menjadi beberapa bagian. Sebutlah 3(tiga) organisasi besar yaitu:

1. JKF-Gojukai
2. Seiwakai
3. Gojukai - IKGA

Perpecahan tersebut hanya sebuah perpedaan prinsif dimana Shojo Ujita dan Tsuji Tazaki ingin mempertahankan tradisi OKINAWA GOJU RYU yang terdapat di dalam GOJUKAI sementara Gosei Yamaguchi ingin mengembangan Tradisi Ayahnya yang mendirikan GOJUKAI dengan beberapa warisan peninggalan ayahnya yaitu Taekyoku KATA. Ciptaan Gichin Funakoshi (Shotokan) sebagai sebuah penghormatan dari hubungan persahabatan yang baik antara Gougen Yamaguchi & Gichin Funakoshi.

Akhirnya JKF – Gojukai (Shojo Ujita)& Seiwakai (Tsuji Tazaki) kembali ke Okinawa dan kelak menjadi salah satun pendiri JKF (Japan Karate Federation) sedang Gosei Yamaguchi yang dibantu adiknya Gosen Yamaguchi mengembangkan Gojukai dengan nama baru yaitu GOJUKAI IKGA (International Karate GOJUKAI Association).

JKF-GOJUKAI & SEIWAKAI mempertahan 12 Original GOJU RYU KATA yang di ajarkan Chojun Miyagi Sensei sedang GOJUKAI IKGA berkembang dengan tradisinya dan kelak mengajarkan GOJUKAI - IKGA KATA yaitu :

1. Genkaku
2. Chikaku
3. Tenryu
4. Kouryu

Sedang Tae Kyoku KATA sendiri berkembang menjadi :

1. Taikyoku Jodan I & II
2. Taikyoku Chudan I & II
3. Taikyoku Gedan I & II
4. Taikyoku Kake Uke I & II
5. Taikyoku Mawashi Uke I & II



Adapun 12 Original GOJU RYU KATA yang di pertahankan oleh JKF-GOJUKAI dan SEIWAKAI adalah :

1. Sanchin
2. Gekisai Dai Ichi
3. Gekisai Dai Ni
4. Saifa
5. Seiyunchin
6. Sepai
7. San Seru
8. Shishochin
9. Sesan
10. Kururunfa
11. Separunpei/Petchurin
12. Tensho.

HUBUNGAN JKF-GOJUKAI dan WKF

JKF GOJUKAI sebagai salah satu pendiri JKF (Japan Karate Federation) termasuk JKA, JKF-Shitokai dan JKF-Wadokai adalah para perumus utama dalam menentukan kebijakan KATA WKF dimana JKF-GOJUKAI sekaligus adalah badan kehormatan dalam organisasi WKF. Ini terbukti dari lahirnya Juara Dunia Ryuko Abe dan Atsuko Wakai asuhan Akira Shiomi sebagai Director of JKF GOJUKAI KATA.

Adapun GOJUKAI –IKGA dalam hubungannya dengan WKF hanya sebatas kerja sama sanya serta tidak memiliki Hak Suara dalam penentuan kebijakan KATA Goju Ryu. Lihat List KATA GOJU RYU WKF.

JKF – Gojukai selain ikut serta mengembangkan Shiai namun tetap memelihara ajaran BUDO Okinawa Goju Ryu.

GOJUKAI di INDONESIA

Sudah Jelas bagi Gojukai-IKGA Indonesia adalah anggota Forki dan anggota dari IKGA Honbu pimpinan Gosen Yamaguchi saat ini.dengan bapak. Prof.Dr. Achamad Ali SH.MH.LLM Roku DAN Renshi melanjutkan kepemimpinan bapak.Yoke Parengkuan. Sehingga style yang terdapat dalam Gojukai-IKGA Indonesia nampak dengan jelas pada saat membawakan KATA adalah style GOJUKAI –IKGA arahan Gosen Yamaguchi Hansi.

Sedang bagi Goju Ryu Ass & Gokasi tidak nampak GOJUKAI mana yang dipakai. Sebagai anggota FORKI dengan aturan WKF nya sehingga menurut hemat penulis adalah sangat tepat bila Goju Ryu Ass dan Gokasi mengacu kepada ajaran-ajaran JKF-GOJUKAI. Hal ini di dukung oleh factual bahwa Shinbukan dojo di jepang adalah anggota dari JKF GOJUKAI dan Bapak.Hartono Syarif adalah murid Shojo Ujita (pendiri JKF-GOJUKAI) setelah di rekomendasikan oleh Kunishiro Ishii Sensei.

Namun sayang Goju Ryu Ass & Gokasi bila di anilisa tidak memahami apa yang menjadi perbedaan mendasar Rules JKF-GOJUKAI sebagai perujuk KATA Goju Ryu WKF dan Rules GOJUKAI-IKGA.

Sehingga Goju Ryu Ass arahan Ketua Dewan Guru sensei Alip Supriyanto dan Sensei Bambang Irianto lebih condong kepada mengekor kepada tekhnik GOJUKAI –IKGA dengan memakai nama JKF-GOJUKAI. Dalam hal mengekor kepada GOJUKAI-IKGA tentu tidak akan mendapatkan legitimasi dari Gojukai-Ikga bila tidak mendapatkan restu dari bapak.Achmad Ali Renshi sebagai official representative GOJUKAI-IKGA di Indonesia.

Demikian untuk mendapatkan legitimasi dari JKF –GOJUKAI kedua organisasi Goju (Goju Ryu Ass & Gokasi) harus sekolah dahulu kepada JKF-GOJUKAI dan tidak boleh mengaku - ngaku JKF-GOJUKAI di Indonesia.

Mari kita luruskan persepsi yang baik kepada para karateka generasi Goju Ryu di Indonesia secara Ilmiah dan tidak usah takut menjelaskan kebenaran yang haqiqi justru disitulah terdapat kemuliaan menuju jalan BUDO dengan semangat BUSHIDO.

Maaf khususnya kepada sensei Alip Supriyanto sebagai ketua dewan guru Goju Ryu Ass, Saya akan sangat mendukung sensei dengan Jabatan nya sekarang .Namun anda harus konsekwen sebagai seorang ketua dewan guru dan harus bertanggung jawab atas rusaknya KATA anak2 anda dalam event Piala Kasad IX kemarin. Saya salut dan bangga kepada anak2 Goju Ryu Ass Jogjakarta yang kemarin membawakan KATA beregu SAIFA terjun di tengah-tengah hutan belantara tanpa arahan dan bimbingan Ketua Dewan Guru secara tekhnik maupun strategi.

Semoga tulisan ini dapat menjadi nilai tambah wawasan dan pemahaman tentang GOJU RYU khususnya dan Karate umumya.
Terima kasih.

FIRDAUS SAIFUL ALAM

18 November 2008

GOJU RYU ASS ,GOKASI & GOJUKAI-IKGA (INDONESIA ) TIDAK KONSISTEN TERHADAP RULES WKF

Onegaishimasu.

Artikel ini saya tulis sehubungan dengan telah di tanda tanganinya kesepakatan Kata Goju Ryu oleh 3 (tiga ) Perguruan Beraliran Goju anggota Forki baru-baru ini yang di saksikan oleh MLP Pb.Forki di Jakarta.
Goju Ryu Ass,Gokasi dan Gojukai-Ikga/Indonesia nota benenya adalah pendukung aturan WKF dalam event pertandingan Khususnya KATA dimana FORKI sendiri adalah anggota WKF melalui AKFnya.

Namun disayangkan ke 3 (tiga) Goju di Indonesia tersebut tidak Konsisten terhadap aturan WKF mengenai pertandingan KATA bagi pemula/anak-anak. Telah di ketahui bersama bahwa Shitei KATA Goju Ryu untuk Junior-Senior adalah (Saifa & Sepai)
Tetapi akan menjadi berbeda bagi KATA pemula yaitu Shitei KATA nya adalah Gekisai ( dai ichi & Dai Ni ). JKF Gojukai sebagai perujuk utama dalan KATA Goju Ryu WKF tidak pernah merekomendasikan TaiKyoku sebagai Shitei KATA bagi pemula/anak. Hal ini di buktikan dalam beberapa kejuaraan Dunia Bagi pemula baik di Jepang sendiri maupun di luar Jepang.

Saya bingung dan terkadang ingin memohon penjelasan kepada para penandatangan surat tersebut atas dasar dan pertimbangan apa kesepakatan tersebut dibuat. Goju adalah Goju yang memiliki etika tata cara aturan, bukan mengikuti aturan dan budaya Indonesia. Karena kita sepakat bahwa FORKI dan anggota nya harus patuh serta tunduk kepada aturan WKF sebagai induk federasi.

JKF Gojukai di bawah pimpinan UEZO UJITA saat ini sangat konsisten dengan 12 KATA Goju Ryu sebagai mana yang telah di rintis oleh ayahnya yaitu Shojo Ujita sebagai President JKF GOJUKAI yaitu mempertahankan 12 KATA Original Goju Ryu warisan Chojun Miyagi Sensei pendiri Goju Ryu.

Sedikit informasi barang kali kita semua telah lupa akan sejarah TaiKyoku. Tai Kyoku KATA di ciptakan oleh Gichin Funakoshi (Shotokan) yang di adopsi oleh Gougen Yamaguchi (Gojukai) . sepeninggal nya mendiang Gougen Yamaguchi karena GOJUKAI terpecah menjadi 3 organisasi besar murid –murid Gougen Yamaguchi yaitu Tsuji Tazaki mendirikan Seiwakai Gojukai, Shojo Ujita mendirikan JKF-Gojukai dan Gosei Yamaguchi (anak) mendirikan Gojukai-IKGA. Shoju Ujita dan Tsuji Tazaki kembali kepada Tradisi Okinawa Goju Ryu. Sedangkan Gosei Yamaguchi & Gosen Yamaguchi (anak Gougen) meneruskan warisan ayahnya yaitu TaiKyoku Kata ke dalam Gojukai-IKGA termasuk Genkaku,Tenryu dan Chikaku dalam tokutei kata nya. http://www.ikgakarate.org/curric/kata.htm tidak demikian dengan JKF-gojukai ,didalam JKF-Gojukai tetap terpelihara apa yang menjadi KATA pokok dalam Goju Ryu.

Yaitu yang diciptakan Chojun Miyagi ( Tensho dan Gekisai ) serta warisan Kanrio Higaona (Nahate / Shorete) Saifa--------Separumpei/Pethurin.Salah satu nya adalah lahirnya Abe dan Wakai sebagai juara Dunia KATA WKF binaan dari Akira Shiomi Sensei ( KATA Director JKF-Gojukai) yang konsisten dengan 12 Original Goju Ryu KATA/Okinawa Goju Ryu Kata . www.uchinadi-kan.org/Kata List.htm .

Bila Kesepakan Kata tersebut adalah kesepakatan Kata dasar GOJUKAI-IKGA tidak akan di sangkal, benar Gojukai Ikga mewajibkan itu. Tetapi dari informasi yang saya dengar dan saya tahu bahwa Goju Ryu Ass dan Gokasi adalah berkeras mengaku titisan dari JKF-Gojukai . Terlebih saya mengetahui persis bahwa Bapak Hartono Syarif (mendiang) adalah murid dari Shojo Ujita (President JKF-Gojukai ) masa itu setelah berlatih dan direkomendasikan oleh Kunishiro Ishii Shibukan Goju Ryu kepada Haruyoshi Kagawa sensei. Bila demikian sangat di sayangkan tidak demikian yang dilakukan oleh murid-murid mendiang Hartono Syarif Shihan. Jangankan ingin mengembangkan Goju Ryu Ass sebagai titisan JKF-Gojukai memahami Goju Ryu dan silisilah Goju Ryu nya saja tidak mengenal. Kalau sudah begitu akan samar dan tidak jelas kemana lagi organisasi Goju Ryu Ass melangkah.

Wasit Forki Ikut mendukung………

Hal ini di dukung pula oleh kurang pahamnya wasit-wasit Forki akan Kata Goju Ryu Khususnya JKF-Gojukai sebagai perujuk KATA GOJU RYU WKF padahal pada setiap kejuaraan baik daerah maupun nasional tidak sedikit CD/DVD KATA di jual di mana dalam cd/dvd KATA tersebut terdapat KATA Goju Ryu untuk pemula/anak-anak yaitu Gekisai ( Ichi & Ni) sebagai Shitei.

Perlu saya informasikan sekali lagi bahwa sepeninggalnya Gougen Yamaguchi (Pendiri GOJUKAI ), JKF-Gojukai dan Gojukai-Ikga adalah 2 (dua) organisasi besar di dunia dari rumpun Gojukai serta memiliki rumah tangga serta rules yang berbeda .
Bukan hal itu saja wasit Forki kurang memahami perbedaan setiap KATA khususnya yang terdapat dalam Goju Ryu serta Shito Ryu. Seiyunchin/Seiinchin Goju dan Shito pun memiliki perbedaan yang mendasar,Saya sangat yakin Wasit FORKI yang memiliki kualifikasi WKF tahu akan itu khususnya Reffree KATA sebab salah satu mata ujian adalah membedah KATA 4 Aliran (GOJU RYU,SHOTOKAN,WADO RYU dan SHITO RYU ) baik Shitei maupun tokutei nya.

Mudah-mudahan melalui artikel ini bapak.Bambang Irianto sebagai orang yang dituakan pada saat menanda tangani surat kesepakatan kata Goju Ryu dapat meninjau ulang bila Gokasi pun konsisten dengan JKF-GOJUKAI nya saya rasa perlu kiranya bapak Bambang Irianto Shihan banyak berkonsultasi dengan Sensei Daniel Mahardani IOGKF-Indonesia sebagai Junior bapak didalam Gokasi mengenai maksud dari tulisan saya ini.

Tiada lain artikel ini saya tulis sebagai bentuk kepedulian terhadap perkembangan seluruh organisasi yang berliran Goju Ryu baik itu rumpun Gojukai maupun Okinawa Goju Ryu di Indonesia dengan tidak bermaksdu mendiskriditkan orang perorang. Harapan saya Goju Ryu dapat berkembang dan bersatu di Indonesia turut serta mencerdaskan anak-anak bangsa sebagai generasi Goju Ryu mendatang dengan tidak mensamarkan arti Goju Ryu itu sendiri secara Ilmiah dan objective.
Demikian artikel singkat ini saya tulis semoga dapat memberikan nilai tambah khususnya informasi educatif bagi anak-anak kita (Goju Ryu) dan praktisi karate umumnya di tanah air. Arigatogozaimashita…

FIRDAUS SAIFUL ALAM Kyoshi
Roku DAN Okinawa Goju Ryu Karate
San DAN San Kaku Ryu Ju Jutsu www.sjja-maa.org
San DAN Kobudo
Indonesian Representative WGKF www.wgkf.net
Indonesian Represntative WUKO www.wuko-karate.org
Founder of GOJUINDO (Goju Ryu & Ju Jutsu International Karate-do)
Founder & President Asean Goju Ryu Federation (all Goju Style)
Management Support of Goju Ryu Ass Indonesia.

Proposal Kejurnas INKADO VII 2010

PROPOSAL

KEJUARAAN NASIONAL KARATE

INDONESIA KARATE-DO VII TAHUN 2010

I. PENDAHULUAN

Pola pembinaan olahraga prestasi yang baik, dilakukan dengan sistem berjenjang, berlanjut dan berkesinambungan, langkah pembinaan seperti ini yang diterapkan oleh INDUK INDONESIA KARATE-DO (INKADO) sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi PERGURUAN INKADO di tanah air.

Suksesnya program pembinaan yang melahirkan atlet-atlet berprestasi tentunya harus mengintegrasikan program pembinaan dengan melibatkan semua unsur serta dilaksanakan secara simultan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Untuk mendapatkankan atlet berprestasi, disamping proses latihan yang harus di jalankan dengan baik, perlu juga dibarengi dengan menciptakan kompetisi-kompetisi agar proses latihan yang diterapkan dapat diuji dan dievaluasi melaui kompetisi-kompetisi yang ada. Oleh karena itu semakin besar volume dan frekuwensi kejuaraan/kompetisi, maka semakin besar peluang untuk menghasilkan atlet berprestasi.

INDUK INKADO dalam aktifitas pembinaan prestasi mempunyai program kompetisi yang dimulai dari tingkat usia dini, kadet, junior sampai dengan senior, yang dilaksanakan secara nasional.

Pada tahun 2010 kompetisi yang akan dilaksanakan oleh INDUK INKADO adalah Kejuaraan Nasional untuk tingkat KADET , JUNIOR DAN SENIOR yang dikenal dengan KEJUARAAN NASIONAL INDONESIA KARATE-DO VII Tahun 2010.

II. DASAR PELAKSANAAN

Dasar dilaksanakannya KEJUARAAN NASIONAL INDONESIA KARATE-DO Tahun 2010. ini adalah :

1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perguruan INKADO.

2. Program kerja dan kalender Kegiatan Induk INKADO 2006-2011.

3. Surat Keputusan INDUK INKADO Nomor : 014/Kep-Ind/XI/2009, Tertanggal, 30 Nopember 2009.- Tentang : Pengesahan Panitia Pelaksana KEJUARAAN NASIONAL INDONESIA KARATE-DO VII Tahun 2010.

III. MAKSUD DAN TUJUAN

A. Maksud :

a. Mengadakan evaluasi dan menguji prestasi atlet-atlet potensial dari Koordinator daerah secara maksimal.

b. Menciptakan jenjang kompetisi yang terpadu.

B. Tujuan :

a. Meningkatkan frekuensi berkompetisi para atlet-atlet karate berbakat dari Perguruan Inkado pada jenjang tingkat nasional.

b. Untuk menjaring atlet-atlet karate yang akan diproyeksikan untuk mengikuti Pelatnas persiapan PIALA KASAD X tahun 2010.

IV. PENANGGUNG JAWAB DAN PELAKSANA KEGIATAN

Penanggung Jawab Kegiatan :

Pengurus Induk Indonesia Karate-Do ( INKADO )

Ketua Pelaksana kegiatan : Maman Anurachman, SH., MSI.

(Susunan panitia Pelaksana Terlampir)

V. THEMA KEGIATAN

MELALUI KEJUARAAN NASIONAL INDONESIA KARATE-DO Ke-VII TAHUN 2010, KITA TINGKATKAN PERSATUAN DAN KESATUAN DALAM PERSAUDARAAN KELUARGA BESAR INKADO SEBAGAI ANAK BANGSA UNTUK BERSAMA-SAMA MENINGKATKAN PRESTASI KARATE NASIONAL MENUJU PRESTASI INTERNASIONAL.

VI. KEGIATAN, WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 24 s/d 28 Februari 2010 di Jakarta, dengan perincian kegiatan sebagai berikut :

a. Gashuku / Ujian DAN Tingkat Nasional :

Hari/Tanggal : Rabu, 24 Februari 2010.

Pukul : 06.00. WIB – Selesai.

Tempat : GOR POPKI Cibubur.

Jln. Jambore No. 44 Cibubur – Jakarta Timur.

b. Penataran Wasit dan Juri Tingkat Nasional:

Hari/Tanggal : Rabu, Kamis, 24 & 25 Februari 2010.

Pukul : 08.00 s/d 15.00. WIB

Tempat : GOR POPKI Cibubur.

Jln. Jambore No. 44 Cibubur – Jakarta Timur.

c. Penimbangan Badan:

Hari/Tanggal : Kamis, 25 Februari 2010

Pukul : 09.00 s/d 15.00. Wib

Tempat : GOR POPKI Cibubur.

Jln. Jambore No. 44 Cibubur – Jakarta Timur.

d. Technical Meeting:

Hari/Tanggal : Kamis, 25 Februari 2010.

Pukul : 15.00 s/d 17.00. Wib

Tempat : GOR POPKI Cibubur.

Jln. Jambore No. 44 Cibubur – Jakarta Timur.

e. Pertandingan:

Hari/Tanggal : Jumat, Sabtu, Minggu, 26 s/d 28 Februari 2010.

Pukul : 08.00 s/d 17.00. Wib

Tempat : GOR POPKI Cibubur.

Jln. Jambore No. 44 Cibubur – Jakarta Timur.

VII. PESERTA.

Peserta KEJUARAAN NASIONAL INDONESIA KARATE-DO VII Tahun 2010. adalah :

1. Atlet-atlet karate Korda INKADO

2. Atlet-atlet karate masing-masing kelas terdiri dari dua orang atlet.

3. Peserta harus mendapat rekomendasi dari Ketua Korda.

4. Peserta atlet Karate Cabang Khusus, Cabang dari Korda Papua dan Papua

Barat, masing-masing kelas teridirisatu orang atlet, dan harus mendapat

rekomendasi dari Ketua Cabang.

VIII. JENIS DAN NOMOR PERTANDINGAN.

Even ini akan mempertandingkan 39 (Tiga Puluh Sembilan) Kelas/Nomor Pertandingan yang terdiri dari :

Kadet usia 14 s/d 15 tahun (Kelahiran 1 April 1996 s/d 31 Maret 1994)

Putra : Putri :

1. Kata Perorangan Putra. 1. Kata Perorangan Putri .

2. Kumite – 52 Kg 2. Kumite – 47 Kg

3. Kumite – 57 Kg 3. Kumite – 54 Kg

4. Kumite – 63 Kg 4. Kumite + 54 Kg

5. Kumite – 70 Kg

6. Kumite + 70 Kg

Junior usia 16 s/d 17 tahun (Kelahiran 1 April 1994 s/d 31 Maret 1992)

Putra : Putri :

1. Kata Perorangan. 1. Kata Perorangan.

2. Kata Beregu. 2. Kata Beregui.

3. Kumite – 55 Kg 3. Kumite – 48 Kg

4. Kumite – 61 Kg 4. Kumite – 53 Kg

5. Kumite – 68 Kg 5. Kumite – 59 Kg

6. Kumite – 76 Kg 6. Kumite + 59 Kg

7. Kumite + 76 Kg

Senior

Putra : Putri :

1. Kata Perorangan. 1. Kata Perorangan.

2. Kata Beregu 2. Kata Beregu

3. Kumite - 55 Kg. 3. Kumite – 50 Kg.

4. Kumite – 60 Kg. 4. Kumite – 55 Kg.

5. Kumite – 67 Kg. 5. Kumite – 61 Kg.

6. Kumite – 75 Kg. 6. Kumite – 68 Kg.

7. Kumite – 84 Kg. 7. Kumite + 68 Kg.

8. Kumite + 84 Kg. 8. Best of the Best

9. Best of the Best.

IX. PROTES DAN DISKUALIFIKASI

1. Selama pertandingan berlangsung segala bentuk protes yang

bersifat teknis terhadap keputusan wasit ditiadakan (sesuai peraturan

FORKI). Kecuali masalah kesalahan administrasi.

2. Peserta akan didiskualifikasi bila :

2.1. Tidak terdaftar dalam formulir pendaftaran tim peserta.

2.2. Berat badan tidak sesuai dengan kelas yang diikuti.

2.3. Melanggar peraturan/ketentuan yang telah diterapkan oleh

panitia sesuai dengan hasil technical meeting.

Keterangan :

1. Ketentuan pada Kadet, pertandingan Kumite wajib menggunakan face mack dan bodi protector.

2. Waktu pertandingan kumite untuk Kadet dan Junior durasinya 2 menit

(putra dan putri).

3. Waktu pertandingan kumite untuk Senior meliputi :

3.1. Babak penyisihan durasinya 3 (tiga) menit untuk putra dan 2 (dua)

menit untuk putri.

3.2. Pada babak final memperebutkan Juara I dan final reperchage,

memperebutkan Juara III durasinya 4 (empat) menit untuk putra dan

3 (tiga) menit untuk putri.

4. Apabila pertandingan berakhir seri atau nilai sama maka dilakukan

perpanjangan waktu selama 1 (satu) menit dan pada saat

perpanjangan waktu semua hukuman dihapus dan pertandingan

harus dihabiskan selama 1 (satu) menit penuh walaupun salah satu

kontestan sudah ada yang mendapat point terlebih dahulu (untuk

semua kategori).

5. Untuk Kata beregu pada babak final (perebutan juara I dan II) dan

Final reperchage (perebutan Juara III) harus dimainkan bungkai.

X. PENGHARGAAN

1. Piala bergilir & tetap Ketua Umum INDUK INKADO untuk Juara Umum.

2. Piala Pendiri/Guru Besar INKADO Alm. Prof Dr Drs Baud AD Adikusumo, Best of the Best Senior Putra, dan Piala Ibu Baud AD Adikusumo Best of the Best Senior Putri.

3. Mendali dan Piagam Prestasi untuk Juara I, II dan III bersama.

4. Piagam Penghargaan untuk Tim.

XI. SISTIM PERTANDINGAN DAN PERWASITAN

1. Pertandingan akan menggunakan sitim Gugur/Referchange.

2. Perwasitan menggunakan peraturan WKF.

3. Perebutan Piala The Best of The Best hanya diikuti oleh atlet-atlet yang menjadi juara kumite Senior dikelasnya masing-masing.

4. Jenis KATA yang harus dimainkan dalam pertandingan sesuai dengan ketentuan WKF adalah untuk babak penyisihan dimulai dengan KATA wajib (Shitei) sedangkan pada babak selanjutnya menggunakan KATA bebas.

5. Untuk Nomor KATA Beregu dibabak final harus memainkan bungkai dan bungkai dimainkan maksimal 5 menit sesuai peraturan WKF.

6. Wasit dan Juri yang akan memimpin pertandingan adalah Wasit/Juri Nasional FORKI dan Wasit/Juri INKADO yang telah lulus Ujian / Refreshing sesuai dengan penilaian Dewan Wasit FORKI.

7. Protes dapat dilakukan oleh Pelatih maupun Tim Manajer sepanjang terjadi kesalahan prosedur perwasitan atau administratif dalam pertandingan, dan ditujukan kepada Dewan Wasit atau Pengawas Perwasitan dilapangan saat peristiwa/kejadian. Menyangkut pengambilan poin yang diputuskan oleh wasit tidak dapat diprotes.

8. Peserta akan didiskualifikasi apa bila :

8.1. Berat badan tidak sesuai dengan kelas yang diikuti.

8.2. Melakukan tindakan yang tidak mengganggu jalannya pertandingan.

9. Tim Manager dan Pelatih yang akan mendampingi atlet di lapangan

wajib mengikuti Technical Meeting.

10. Tim Manager dan Pelatih yang mendampingi atlet bertanding

dipinggir lapangan harus mengenakan pakaian Training Sweet dan

bersepatu karet.

XII. AKOMODASI

Panitia tidak menyiapkan tempat penginapan khusus untuk peserta, namun diinformasikan bahwa disekitar GOR POPKI Cibubur Jakarta Timur terdapat banyak tempat penginapan yang berupa DIKLAT-DIKLAT sederhana. Biaya per-hari/per-orang AC Rp 30.000. non AC Rp 15.000. Kosumsi makan (3 kali/per-orang/hari) dengan menu standar Rp 42.000.

Apabila Korda-korda membutuhkan bantuan panitia, akan dibantu dengan waktu pemesanannya paling lambat tanggal 1 Februari 2010.

XIII. KETENTUAN UMUM PESERTA

A. Penataran Wasit/Juri :

1. Peserta penataran dan ujian wasit/ juri harus mendapat rekomendasi /

mandat dari KORDA masing-masing.

2. Peserta Penataran Wasit Juri untuk KATA dan Kumite minimal memiliki

tingkatan DAN II. Dan usia minimal 25 tahun. (fotocopy Sertifikat

DAN harus dilampirkan, yang aslinya dibawa untuk ditunjukkan).

3. Bagi KORDA yang mengutus Wasit A dan B, FORKI, harus

mengikutii penyegaran/refreshing. (1 hari sebelum pertandingan)

4. Peserta harus mengisi formulir yang disiapkan panitia dengan

menyertakan pas foto ukuran 3 x 4 cm sebanyak 3 lembar.

5. Pendaftaran dimulai pada tanggal 1 Februari dan berakhir pada

Tanggal 22 Februari 2010. lewat tanggal tersebut pendaftaran tidak

akan di layani.

B. Biaya pendaftaran wasit/juri :

1. Jika hanya mengikuti penataran dan ujian kumite sebesar Rp. 125.000.

2. Jika hanya mengikuti penataran dan ujian KATA sebesar Rp. 125.000.

3. Khusus untuk peserta yang mengikuti penataran dan ujian Kumite serta KATA sebesar Rp 200.000.

4. Bagi Wasit A dan B, FORKI yang hanya mengikuti refreshing diwajibkan membayar Rp 75.000. dan jika tidak mengikuti refreshing dan tidak membayar uang pendaftaran tidak akan ditugaskan dalam memimpin pertandingan.

5. Selama mengikuti penataran/refreshing peserta belum mendapat fasilitas penginapan dari panitia.

6. Ketentuan lainnya menyangkut penataran perwasitan akan dijelaskan pada saat penataran berlangsung.

7. Membawa perlengkapan sesuai dengan peraturan resmi perwasitan.

8. Wasit dan juri yang akan bertugas dalam Kejurnas ditentukan oleh Ketua Perwasitan Induk INKADO, berdasarkan hasil ujian dan penilaian dari Dewan Wasit FORKI.

9. Mereka yang ditunjuk untuk bertugas sebagai wasit dan juri akan mendapatkan fasilitas penampungan, konsumsi dan transportasi lokal dari panitia selama pertandingan berlangsung (Tgl 25 Februari 2010 Sore s/d Tgl 28 Februari 2010 pagi)

XIV. KETENTUAN UMUM PESERTA GASHUKU & UJIAN DAN

1. Seluruh Peserta Kejurnas wajib mengikuti Gashuku Nasional.

2. Peserta Ujian DAN harus mendapat rekomendasi /

mandat dari Ketua KSH dan KORDA masing-masing.

3. Peserta Ujian DAN harus mengisi formulir yang disiapkan oleh panitia dengan menyerahkan pas foto ukuran 3 x 4 sebanyak 3 (tiga) lembar dan 4x6 sebanyak 3 (tiga) lembar.

4. Peserta Ujian DAN I ke DAN II dan seterusnya harus melampirkan fotocopy ijasah DAN terakhir.

5. Pendaftaran dimulai tgl 0I Februari 2010 dan berakhir pada tanggal 20 Februari 2010, lewat tanggal tersebut tidak dapat dilayani.

XV. BIAYA PENDAFTARAN UJIAN DAN

Biaya pendaftaran ujian DAN sebagai berikut :

1. Kyu 1 (Coklat ) ke Sho-Dan (DAN I ) Rp 250.000.

2. Sho-Dan (DAN I) ke Ni-Dan (DAN II) Rp 300.000.

3. Ni-Dan (DAN II) ke San-Dan (DAN III) Rp 350.000.

4. San-Dan (DAN III) ke Yon-Dan (DAN IV) Rp 400.000.

Untuk yang mengikuti Ujian DAN diwajibkan membayar iuran Rp 120.000. untuk satu tahun, dan Kartu Tanda Anggota (KTA) Rp 50.000. Tanda bukti pembayaran/transfer dikirim melalui Fax : 021-7887082 ditujukan kepada Ibu Yanti.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi

· Sihan Bernadus Lontoh Langitan Hp. 02168675701.

· Sihan Trisetianto Budijulihartono, SE. Hp.081310618530, 0816987964.

· Sihan M. Gusti Hp. 08179836999.

XVI. PERSYARATAN PESERTA PERTANDINGAN

A. Persyaratan Administrasi

1. Pendaftaran peserta dimulai tgl 1 Februari s/d 20 Februari 2010.

2. Panitia meminta perhatian KORDA mengirim daftar nama Atlet dan

Ofisialnya, lebih awal untuk keperluan pendataan.

3. Pas Photo untuk atlet dan ofisial (3x4) sebanyak 3 lembar.

4. Uang Pendaftaran:

Pendaftaran peserta dilakukan pada panitia pendaftaran dengan membayar

biaya pendaftaran masing-masing sebesar :

4.1. Kelas Perorangan Rp 75.000.

4.2. Kelas Beregu Rp 100.000.

5. Mengisi formulir yang telah disiapkan oleh panitia pelaksana.

6. Menyerahkan surat keterangan sehat dari dokter.

7. Penimbangan badan atlet dilakukan satu hari sebelum pertandingan untuk

menentukan berat badan kelas yang diikuti, dan sebelum dilaksanakan

pada waktu nomor/kelas dipertandingkan akan dilakukan penimbangan

badan ulang, bila melebihi berat badan, maka akan didiskualifikasi.

8. Penjelasan sekitar sitim pertandingan dan perwasitan akan dijelaskan pada saat pertemuan tekhnik (technical meeting).

B. Persyaratan Teknis

Atlet peserta kejuaraan wajib membawa dan menggunakan :

1. Pakaian karate (karategi) berwarna putih bersih.

2. Pelindung gigi (gum shield )

3. Hand protector merah dan biru.

4. Pelindung kaki sesuai standar WKF. (Shin & foot Protector) merah dan biru.

5. Sabuk merah dan biru.

6. Pelindung dada untuk atlet Kumite Putri. (Chest protector )

XVII. KESEHATAN.

1. Panitia menyiapkan pengobatan dalam lingkungan pertandingan sampai batas P3K, selebihnya menjadi tanggung jawab kontingen masing-masing.

2. Rumah sakit rujukan adalah rumah sakit UKI Jakarta dan RSU Pasar

Rebo Jakarta Timur.

XVIII. SEKRETARIAT PANITIA.

Hal-hal yang belum jelas diatur dalam proposal ini dapat menghubungi Sekretariat panitia yaitu dengan alamat :

Jln. Aseli No 49 Rt 011/01 Ciganjur – Jakarta Selatan

Telp.: (021) 709 710 17 Fax.: (021) 788 870 82

E-mail : sekretariat@inkado.org Website : http://www.inkado.org/

Untuk pendaftaran peserta dialamatkan langsung pada Sekretariat panitia di Jakarta.

XIX. PENUTUP.

Demikian proposal kegiatan KEJUARAAN NASIONAL INDONESIA KARATE-DO Ke – VII Tahun 2010 dibuat sebagai gambaran umum penyelenggaraan untuk menjadi acuan dan panduan peserta.

Jakarta, 30 Nopember 2009.

PANITIA PELAKSANA

KEJUARAAN NASIONAL INDONESIA KARATE-DO Ke-VII TAHUN 2010

Ketua , Sekretaris ,

ttd. ttd.

MAMAN ANURACHMAN, SH., MSI. DRS. SYAMSURIZAL, MM.-

Kolonel Laut

Mengetahui :

PENGURUS

INDUK INDONESIA KARATE-DO

Ketua Umum

ttd

YORRYS TH. REWEYAI